Jumat, 27 Maret 2009

Menggagas Jihad Moneter

Menggagas Jihad Moneter

Antonio Carceres

Master Manajemen, Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia.

Seluruh dunia tahu bahwa tanpa dukungan Amerika
Serikat (AS), Israel tidak akan berani menyerang
Palestina dan Lebanon secara besar-besaran
seperti sekarang ini. Korban sipil dan anak-anak tak
berdosa yang jatuh akibat kebrutalan Israel sudah
sangat banyak. Dalam masalah Palestina sudah
terbukti bahwa secara politik Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) tidak dapat berbuat apa-apa,
karena semua keputusan Dewan Keamanan (DK) PBB yang
merugikan kepentingan Israel akan segera diveto oleh
AS..

Setelah Uni Soviet runtuh, praktis PBB hanyalah
menjadi instrumen AS untuk
menjadi legitimasi tindakan-tindakannya memperluas dan
mempertahankan hegemoninya di dunia. Jika PBB
sekali-kali menolak AS untuk memberinya
mandat seperti yang terjadi menjelang Invasi ke Irak,
AS tidak segan untuk
bertindak unilateral..


Karena itu, untuk sekarang ini peran PBB tidak bisa
diharapkan lagi untuk bisa menghentikan pertumpahan
darah di Palestina maupun Lebanon.
Paling-paling, peran PBB hanyalah menjadi koordinator
bantuan kemanusiaan. Kasarnya, mereka hanya menjadi
tukang sampah yang dipanggil setelah Israel
berpesta dengan membantai rakyat Palestina dan
Lebanon..


Keadaan yang sulit diubah ini membuat umat Islam
menjadi frustrasi dan pada gilirannya memberi angin
segar kepada eksponen-eksponen ekstrem dalam
tubuhnya untuk berkembang. Jika perkembangannya
mencapai tahap terorisme, maka ini adalah perkembangan
yang buruk, karena akan membuat umat Islam menjadi
semakin tertekan dan menjadi warga dunia kelas dua..

Reaksi umat

Menghadapi hal ini, ada dua jenis reaksi umat Islam
Indonesia yaitu pernyataan kecaman dan demonstrasi.
Bagi Israel dan pelindungnya, AS, kedua hal itu hanya
akan dianggap angin lalu. Bahkan pernyataan kecaman
dari negara-negara pemilik veto di DK PBB pun sudah
dianggapnya dianggap angin lalu, apalagi hanya
pernyataan umat Islam Indonesia..

Tentu pernyataan kecaman dan demonstrasi itu memiliki
hal positif untuk mengeluarkan emosi melihat
pembantaian saudara-saudara kita di Palestina
dan Lebanon. Tetapi jika demonstrasi mencapai tahap
anarkis, pada gilirannya akan dapat merugikan citra
umat Islam di mata dunia. Karena nantinya media-media
barat akan menggunakan peristiwa tersebut untuk
mendeskripsikan kebrutalan umat Islam sehingga. Dengan
begitu, eksponen masyarakat Barat yang sebenarnya
simpati terhadap perjuangan umat Islam
untuk Palestina akhirnya bisa berbalik..

Kita telah saksikan menjelang Perang Irak bahwa
negara-negara Barat tidaklah sepakat dengan politik
AS. Jerman dan Prancis berada di front
terdepan yang menentang keputusan tersebut. Jika
dikelola dengan baik, mereka dapat menjadi sekutu umat
Islam menghadapi hegemoni AS..

Kebetulan kedua negara tersebut adalah negara-negara
Uni Eropa (UE), satu-satunya kekuatan yang saat ini
masih dapat menandingi AS di bidang ekonomi. Dengan
jumlah penduduk 400 juta dan pendapatan per kapita
yang
tinggi serta mata uang tunggal, mereka berdiri sama
tinggi dengan AS..

Simbol persaingan ekonomi di antara mereka dapat kita
lihat dalam persaingan pembuatan pesawat terbang.
Pabrik pesawat, Airbus dan Boeing adalah modelnya.
Kedua perusahaan tersebut adalah proyek prestisius UE
dan AS. Kedua simbol tersebut terus saja bersaing. Di
bidang moneter, terdapat juga simbol persaingan di
antara mereka. Mata uang dolar AS dan euro
sama-sama berebut untuk secara dominan menghegemoni
perekonomian dunia..

Beranjak dari pengetahuan tentang potensi kelemahan AS
tersebut,negara-negara di dunia yang khawatir terhadap
hegemoni AS berusaha memanfaatkannya untuk menjadi
instrumen penekan terhadap AS. Praktik ini
terutama dilakukan saat AS makin sewenang-wenang
setelah penghancuran
menara kembar World Trade Canter, 11 September 2001..

Meninggalkan dolar AS

Venezuela dan Iran berusaha supaya negara-negara
pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC tidak lagi
menggunakan dolar AS dalam berbagai transaksi. Mereka
ingin mengganti dolar AS dengan euro, tetapi
tampaknya usaha ini belum sepenuhnya berhasil. Iran
sendiri telah mengkonversi cadangan devisa negaranya
ke euro. Ini juga menjadi langkah yang dilakukan
oleh Cina pada sebagian cadangan devisanya..

Di beberapa negara Arab kaya minyak juga mulai muncul
wacana untuk melakukan hal yang sama. Secara faktual
mata uang euro ini telah menjadi alat tukar sah di
banyak negara Eropa Timur. Kabarnya di Moskow, rubel
mata uang Rusia, sendiri sudah tidak laku dipegang
orang dan digantikan oleh euro. Hal serupa juga
terjadi di negara-negara bekas Yugoslavia yaitu
Kroasia, Bosnia, dan Serbia..

Jadi perubahan penggunaan mata uang dolar AS ke euro
dapat terjadi lewat kebijakan pemerintahan maupun
inisiatif masyarakat. Dalam empat tahun setelah
ditetapkan menjadi mata uang Uni Eropa, euro berada
dalam posisi ekspansif terhadapa dolar AS. Hal itu
dapat dilihat dengan melemahnya nilai tukar dolar AS
hingga 40 persen dalam jangka waktu tersebut..

Menghadapi invasi brutal Israel ke Palestina dan
Lebanon, kelemahan AS di bidang hegemoni moneter
tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat
tekanan kepada pemerintah AS. Selanjutnya, tekanan itu
diharapkan memberi efek yang memaksa pemerintah Israel
untuk menghentikan aksi terornya dengan
menginvasi Lebanon dan Palestina..

Bentuk yang nyata dari usaha menegakkan keadilan yang
baiknya disebut jihad moneter ini dapat mengambil
berbagai macam dan bentuk. Jihad moneter ini
dapat dimulai dari diri masing-masing yaitu dengan
menukarkan simpanandolar AS baik dalam bentuk uang
tunai maupun rekening ke mata uang euro..

Sebagaimana setiap jihad membutuhkan pengorbanan, maka
pengorbanan yang dilakukan mujahid moneter adalah
potongan transfer mata uang yang dilakukan oleh money
changer atau bank. Tetapi pengorbanan ini hanyalah
jangka pendek karena seperti data yang terungkap
sebelumnya, euro akan makin menguat terhadap dolar AS.
Maka selisih nilai tukar itu dapat kembali..

Lebih-lebih lagi jika usaha jihad moneter ini makin
meluas dan berlanjut maka bukan tidak mungkin akan
terjadi penurunan tajam nilai mata uang dolar
AS terhadap euro karena kebutuhan terhadap euro
meningkat. Dalam hal ini maka para mujahid moneter di
masa awal akan memperoleh keuntungan berlimpah.
Tindakan berikutnya yang dapat dilakukan adalah
menukar dolar AS yang terdapat dalam kas-kas ormas
Islam, tabungan haji dan dana abadi umat
ke dalam euro. Dari tabungan haji saja dapat
dikonversi uang sebesar setengah miliar dolar AS..

Selanjutnya jihad moneter dapat dilakukan oleh para
pengusaha yang menggeluti aktivitas ekspor-impor
dengan melakukan transaksi dagang dengan patnernya di
luar negeri dalam bentuk euro. Jihad moneter ini akan
terasa kuat akibatnya jika proses transaksi oleh
negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam
OPEC dilakukan dalam euro. Jika dilihat mayoritas
anggota OPEC adalah negara-negara Muslim maka mestinya
hal ini tidak sulit dilakukan..

Jihad moneter ini dapat juga dilakukan di tingkat
negara dengan menukarkan cadangan devisanya dari dolar
AS ke euro dan melakukan pembelanjaan negara
di luar negeri dalam euro. Mungkin tindakan ini yang
paling sulit karena aktornya adalah pemerintah
masing-masing negara yang rentan terhadap tekanan AS.
Untuk itu pemerintah-pemerintah yang terlibat dalam
pembelanjaan itu perlu didukung agar berani melakukan
penggantian mata uang yang menekan AS lewat kampanye
jihad moneter yang seruannya adalah change
dollar to euro!. .

Ikhtisar.

- Satu-satunya kekuatan yang bisa digunakan untuk
menekan AS adalah meninggalkan penggunaan mata uang
dolar AS.

- Tekanan ini selanjutnya bisa diharapkan agar AS
memaksa Israel menghentikan aksi terornya terhadap
Palestina dan Lebanon.

- Euro bisa menjadi alternatif pengganti dolar karena
mata uang tersebut menjadi pesaing kuat bagi dolar AS.
- Iran dan Venezuela sudah mulai mengganti cadangan
devisanya ke dalam euro.

- Cara ini dipercaya bisa melemahkan kekuatan ekonomi
AS yang menjadi pendukung utama kebrutalan Israel. .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar