Jumat, 27 Maret 2009

Dampak Peluncuran Euro Per 1 Januari 2002

Dampak Peluncuran Euro Per 1 Januari 2002

Per 1 Januari 2002, Eropa memulai babak baru dalam sejarah dengan hampir sebagian besar negara-negara maju yang tergabung dalam organisasi Uni Eropa secara resmi menggunakan mata uang tunggal euro.Dari 15 negara anggota Uni Eropa, 12 negara secara resmi akan menggunakan mata uang tunggal euro, yakni Austria, Belgia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, dan Spanyol.
Ke-12 negara Uni Eropa dengan total penduduk sekitar 300 juta orang tersebut sering disebut dengan zona euro dan diperkirakan di masa datang akan mengubah peta kekuatan perekonomian dunia dengan diberlakukannya mata uang tunggal euro. Sementara itu, tiga negara anggota Uni Eropa lainnya, yakni Inggris, Denmark, dan Swedia menolak menggunakan mata uang tunggal tersebut dengan alasan berbeda-beda.
Swedia dan Denmark menyatakan perekonomian mereka tidak siap, sementara Inggris menolak dengan alasan belum melakukan referendum namun diperkirakan dalam referendum tersebut nantinya juga akan menghasilkan penolakan dari rakyat Inggris yang bangga dengan poundsterlingnya dan tidak mau kehilangan identitas nasionalnya tersebut.
Pada 1 Januari 2002—atau sering disebut media massa Eropa sebagai ”E-Day”—sebanyak 14,5 miliar euro dalam bentuk mata uang kertas dan 50 miliar euro dalam bentuk koin akan membanjiri seluruh kawasan 12 negara zona euro.
Para pemimpin Eropa mencatat, jika penggunaan mata uang tunggal yang telah dikampanyekan sejak 1999 tersebut berjalan sukses—dengan indikator nilai tukar yang stabil atau bahkan lebih kuat dari dolar AS—, hal tersebut diharapkan akan membuat perekonomian di zona euro menjadi makin perkasa.
Penggunaan mata uang tunggal tersebut di 12 negara maju anggota Uni Eropa akan membuat kawasan tersebut menjadi suatu entitas tersendiri yang sulit untuk diguncang para spekulan valas. Euro juga akan bermanfaat mempermudah perjalanan bagi para pelancong di Eropa serta menguntungkan bagi para pengusaha Uni Eropa yang tidak lagi terkena biaya tambahan karena penukaran valas saat ber-transaksi dengan masing-masing negara tersebut.
Bagi rakyat kebanyakan, euro dipandang akan membuat setiap rumah tangga lebih mudah untuk membuat perbandingan harga bagi suatu jenis barang yang sama yang dijual di negara-negara zona euro yang berbeda. Kepercayaan masyarakat terhadap euro akan sangat bergantung dari tingkat kestabilan mata uang tersebut terhadap dolar AS. Sementara itu, tingkat kestabilan nilai tukar euro terhadap dolar justru akan ditentukan dengan kekuatan perekonomian Uni Eropa, terutama di 12 negara zona euro, terhadap dunia.
Menjadi pertanyaan, bagaimana prospek mata uang euro tersebut serta apa dampaknya bagi para pengusaha Indo-nesia.

Perdagangan LN Uni Eropa
Kantor Statistik Masyarakat Eropa (Eurostat) yang bermarkas di Luksemburg dalam laporannya baru-baru ini menyebutkan, perdagangan luar negeri Uni Eropa untuk Oktober 2001 diperkirakan mengalami surplus 0,7 miliar euro. Laporan menyebutkan, angka surplus transaksi perdagangan tersebut sangat jauh melesat dibanding periode sama tahun sebelumnya (Oktober 2000) yang mengalami defisit 7,1 miliar euro. Jika dihitung hanya untuk kawasan zona euro yang terdiri atas 12 negara, perdagangan luar negeri pada Oktober 2001 diperkirakan mengalami surplus 7,6 miliar euro, jauh melesat dibandingkan dengan Oktober 2000 yang hanya 1,9 miliar euro.
Sementara itu, pada September 2001, terjadi defisit untuk kawasan Uni Eropa sebesar 3,1 miliar euro yang dianggap masih lebih baik dibanding periode sama tahun sebelumnya yang defisit 9,0 miliar euro. Lebih lanjut, Eurostat mencatat bahwa selama kuartal pertama tahun 2001, transaksi perdagangan luar negeri Uni Eropa khusus di sektor energi mengalami defisit yang terus meningkat, yakni defisit 89 miliar euro untuk periode Januari-September 2001, sementara untuk periode sama tahun sebelumnya defisit sebesar 82,6 miliar euro.
Di sisi lain, selama periode Januari-September 2001, Uni Eropa mengalami surplus untuk mata dagangan mesin dan kendaraan, yakni sebesar 58,1 miliar euro atau hampir mendekati dua kali lipat dibanding periode tahun sebelumnya yang hanya sebesar 32,0 miliar euro.
Arus perdagangan luar negeri Uni Eropa dengan seluruh mitra dagang utamanya mengalami pertumbuhan, terkecuali untuk impor dari Jepang yang turun delapan persen, Swiss menunjukkan angka stabil, serta ekspor ke Turki yang turun sebesar 29 persen. Peningkatan arus perdagangan terbesar adalah ekspor ke Rusia yang meningkat sebesar 43 persen, ke Cina (25 persen), dan Republik Ceko (18 persen). Sementara itu, dalam hal impor juga terjadi peningkatan, yakni impor dari Republik Ceko meningkat sebesar 19 persen, dari Turki (17 persen), Polandia (16 persen), serta Hongaria (15 persen).
Nilai tukar euro hingga Jumat siang waktu setempat (28/12) tercatat sebesar 0,8831 per dolar AS.

Dampak Euro bagi RI
Dubes RI untuk Masyarakat Eropa, Nasrudin Sumintapura, mengimbau masyarakat serta para pengusaha Indonesia untuk bersiap diri dengan akan diberlakukannya mata uang tunggal euro di 12 negara anggota Uni Eropa per 1 Januari 2002.
”Masyarakat Indonesia yang masih memegang mata uang dari 12 negara zona euro ini sebaiknya bersiap untuk menukarkan uang tersebut, sementara para pengusaha eksportir dan importir RI juga harus bersiap menghadapi transaksi dagang dengan mata uang euro,” kata Nasrudin.
Kendati di negara-negara zona euro telah digunakan mata uang tunggal tersebut, mata uang lokal sebelumnya masih diterima untuk transaksi atau penukaran ke euro dengan tenggang waktu yang berbeda-beda untuk masing-masing negara.
Prancis yang memberi tenggang waktu untuk transaksi dan penukaran mata uang lokal ke euro hingga 17 Februari 2002, Jerman hingga Maret 2002, Irlandia hingga 9 Pebruari, Belanda hingga 28 Januari, sementara negara-negara zona euro lainnya memberi tenggang waktu hingga 28 Pebruari 2002.
”Karena itu, untuk masyarakat Indonesia yang masih memegang mata uang dari negara-negara zona euro ini, terutama mereka yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri, sebaiknya bersiap menukarkan mata uangnya tersebut. Lewat masa tenggang waktu penukaran, mata-mata uang lokal tersebut sudah tidak diterima lagi,” kata Nasrudin.
Sementara itu, Kasubid Ekonomi Perutusan RI untuk Masyarakat Eropa (PRIME), Deny W Kurnia, mengatakan, dengan diberlakukannya mata uang tunggal euro, dalam jangka panjang hal tersebut akan memiliki dampak tersendiri terhadap perekonomian RI serta transaksi perdagangan ke negara-negara Uni Eropa.
Menurut dia, dalam jangka panjang, keberadaan euro yang stabil bisa menjadi alternatif cadangan devisa RI yang selama ini selalu bergantung pada dolar AS.
”Tidak tertutup kemungkinan, euro yang stabil atau lebih kuat dari dolar dalam jangka panjang justru lebih disukai oleh para pengusaha RI yang banyak melakukan transaksi dengan negara-negara Eropa. Hal tersebut bisa mengakibatkan mereka melepas simpanan dolar yang dimiliki,” kata Deny.
”Karena itu, Bank Indonesia harus mengatur kembali cadangan devisa RI sehingga tidak terlalu berat pada dolar AS. Jika nantinya transaksi perdagangan dengan Uni Eropa dilaksanakan dalam euro, BI harus memiliki cadangan euro yang cukup, terutama untuk transaksi impor,” kata dia.
Dikatakan Deny, jika dalam perjalanannya, nilai tukar euro lebih kuat dibanding dolar AS, para eksportir RI ke negara-negara Uni Eropa akan memperoleh pendapatan riel yang lebih tinggi dalam euro, karena selama ini mereka bertransaksi hanya dengan dolar.
Namun, di sisi lain, bagi para importir Indonesia, penguatan nilai euro dibanding dolar tersebut akan merugikan karena pengeluaran mereka secara nyata menjadi lebih tinggi dalam euro.
Hingga saat ini, kata Deny, nilai ekspor RI ke negara-negara Uni Eropa tercatat sebagai peringkat kedua atau sebesar 16 persen dari total ekspor, sementara nilai ekspor RI ke AS peringkat pertama (17,29 persen), dan Jepang peringkat ketiga (15,28 persen).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar